Minggu, 2×104 Pekan Lalu

2 Oct 2011

capture

Ini blog pertama kami, saat tulisan ini diunggah, masih ada.. :)

Ini sekeping cerita kami, kalau nantinya ketemu juga kepingan cerita dari teman kami yang lain, mungkin keseluruhan cerita itu akan berubah bentuk. Bukan sebagai blog seperti ini yang lebih lengkap, bukan hanya menjadi cerita dari kami atau teman-teman kami itu ke teman-temannya yang lain, bukan pula harus menjadi buku atau bentuk cetakan masa depan yang paperless, tapi lebih dari bagian dari kehidupan kami atau teman-teman semua. Itu akan lebih mulia kami rasa, karena lebih bermanfaat menyeluruh, mengalir seperti udara, bukan hanya seperti air. :)

Maaf, sebelumnya, kami memakai ‘kami’ bukan ‘penulis’, atau ’saya’, atau ‘aku’. Maksudnya agar ‘lebih dekat’ dengan aroma harapan awal, tidak hanya untuk si ‘penulis’, baik itu ’saya’ atau ‘aku’ saja, tapi ‘kami’ dan teman-teman semua, alias kita. Keyakinan ini yang hendak kami bangun sejak awal, sebagai landasan aktivitas kami nantinya, berfikir dengan mind set jangka panjang, bertahap, bertingkat, berlanjut. Sebelum memulai menulis inipun, kami sempat berfikir ulang, ada sodoran isian kategori blogdetik yang wajib diisi. Ada gaya hidup, hiburan, komunitas dan personal. Empat kata itu yang sekiranya kami ingin pilih menjadi kategori blog ini, untuk menyesuaikan pilihan admin saat blog ini mulai di-sign up dan memulai setting dan tulisan awalnya. Di atas tampilan ini ada kata indie music, personal and life society. Kata komunitas-lah, yang kami pilih saat ini, relatif tepat untuk mewakili harapan awal saat itu, bahkan sampai saat ini. Kami merasa butuh berkomunitas (dalam bentuk media apa pun, blogdetik salah satunya), berbagi (di jaman yang mengedepankan horizontal media dan citizen journalism), dilandasi ‘cinta’ (cinta dalam arti luas, yang melandasi terjalinnya silaturahmi, bukan ‘bertemu untuk berpisah’). Kalau sekarang belum kental sebagai komunitas yang ‘bernama’, punya nama, punya papan nama, maka kami merasa yang kami yakini bukanlah sebuah kesalahan, yang baru bisa kami capai juga bukan sebuah hal yang patut disebut sebagai sebuah kesalahan. Setidaknya, kami yakin ada pemikiran dan pencapaian jangka panjang. Itu sederhananya.

Nah, mari kita mulai, apa sesungguhnya kepingan cerita yang ingin kami sampaikan. Buat teman-teman yang sempat mengalami kebersamaan kita saat itu, silakan ikut mengingat, mungkin nanti akan ada cerita lain dan sisi lain. Itu juga kami alami lho, kejadian-kejadian detail empat tahun lalu, sempat juga mampir ke telinga kami, baru-baru ini. Sedikit banyak memang ada hubungannya dengan aktivitas kami, walau tidak relevan tersaji dan terpapar di sini. Itu referensi, jadi titik kaji suatu saat nanti.

Tiga bulan terakhir di tahun 2007, kami memulai sebuah program yang kami namakan z104. Mengapa tiga bulan? Anggap saja kebetulan, kebetulan enak untuk dijadikan patokan waktu, tepat tiga belas pekan, atau ada tiga belas hari Minggu, dimana kami menentukan hari itu sebagai hari H tiap pekannya. Tiga bulan itu kami maknai sebagai program uji coba, yang nantinya bisa lanjut atau stop. Jika hari ini, Minggu, pekan pertama dalam tiga bulan ke depan di tahun ini kami ‘mengulangi’ berproduksi lagi, jauh lebih asyik kali ya? Sudah ada social media networks yang jauh lebih beragam, sudah ada referensi yang jauh lebih lengkap dan detail, sudah ada kebiasaan ber-’komunitas’yang makin efektif dan makin efisien. Mimpi yang tertunda, pencapaiannya, setidaknya bagi kami.

graphic1

Program yang kami ingini, -kami yakin ini bermanfaat- menginspirasi dan memotivasi anak muda, anak band, media, para pendukung, serta stakeholders. Jadi, kalau formatnya seperti sudah-sudah yang pernah ada, buat kami jelas-jelas belum yang kami ingini. Kami ingin melakukan lebih, walau sumber daya terbatas, di lingkungan yang serba terbatas. Ini menariknya!

Sambil nulis, rasanya pengin ketawa, ini ada tulisan di Oktober 2008, “Malam ini adalah malam buat coba2 tayangin brand yang sebelumnya memang sudah pernah terjajal di 107,7 MHz, tapi karena kultur yang dirasa berbeda maka dengan sedikit berdebar-debar diluncurkan juga sebuah test market untuk program Indonesian Best Rock Ninties yang coba di bawain sama Dj Didi. Dan ternyata, dengan warna yang agak beda karena memang secara fisik infrastrukturnya juga jauh beda dengan 107,7 MHz yang kali ini nangkringnya di 104 MHz sangat mengejutkan, ini dibuktikan dengan lumayan banyaknya SMS yang mendukung tertayangnya program tersebut. atau lebih tepatnya audiens sangat berharap agar program IBRNs akan berkelanjutan.

Dj Didi pun merasa cukup senang dengan respon audiens yang tidak pernah disangka sebelumnya, apalagi ternyata di antara sms audiens yang masuk ternyata ada sebagian audiens yang sebetulnya adalah penyimak IBRNs di frekuensi sebelumnya.”

[zMania.. ceritanya dipotong dulu ya.. mau nengok lapak sebelah nich..]

*sebelum terjadi Senin, harus terunggah ;) **admin lain, mana goresan keypad dan keyboardmu :D***tolong ditambahkan ceritanya dong :)


TAGS


-

Author

Follow Me